Unsyiah Kumpulkan Ilmuan Internasional pada Event Icagri-2 2020

Acehpos.id | Banda Aceh – Fakultas Pertanian (FP) Unsyiah, menyelenggarakan The 2nd International Conference on Agriculture and Bioindustry (ICAGRI) 2020 yang berlangsung 27 Oktober 2020 secara virtual dengan spot Multi Purpose Room Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Konferensi diikuti oleh berbagai elemen masyarakat yang konsen dibidang pertanian baik dari Indonesia maupun internasional, yang terdiri dari praktisi, akademisi, peneliti, professional, birokrat dan stakeholder lainnya.

Prof. George Papadakis dari University of Athens, Yunani dalam paparannya menyampaikan industry pertanian harus merubah metode agar lebih sustainable.

Karena pekembangan beberapa decade belakangan ini metode-metode yang digunakan di bidang pertanian tidak berkelanjutan dan dapat mengganggu ekologi dan keanekaragaman hayati secara keseluruhan, serta memengaruhi kesehatan hewan dan manusia.

Sudah saatnya dunia harus beralih ke metode yang lebih berkelanjutan dengan menggunakan praktik bertani yang mempertimbangkan siklus ekologis, dengan menggalakkan metode dan praktik yang layak secara ekonomi, ramah lingkungan, dan melindungi kesehatan masyarakat.

Pertanian berkelanjutan ini akan memberikan manfaat pada pelestarian Lingkungan, Profitabilitas Ekonomi, Penggunaan sumber daya tak terbarukan secara efisien, Perlindungan kesehatan masyarakat, keadilan sosial dan pertumbuhan ekonomi.

Hal senada juga disampaikan oleh Rektor IPB Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi, yang mengangkat isu ekologi manusia. Dalam sesi keynote speaker disampaikan bahwa krisis lingkungan dan perubahan iklim telah menjadi perhatian utama dalam komunitas global karena kontribusinya terhadap dampak yang lebih luas yaitu : kemiskinan, kelaparan dan memburuknya kualitas hidup manusia, semakin menekan kelompok masyarakat yang rentan. Indonesia sebagai negara berkembang juga menghadapi masalah serupa.

Pertama, Indeks Kualitas Lingkungan (EQI) secara nasional menunjukkan kondisi cukup baik, namun beberapa provinsi menunjukkan kategori waspada dan buruk.

Kedua, masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Ketiga, masalah kelaparan. Permasalahan-permasalahan tersebut merupakan masalah dalam pembangunan dan merupakan bagian dari sistem yang kompleks dan saling terkait.

Oleh karena itu, diperlukan transformasi paradigma pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan ekologi, ekonomi dan sosial.

Dr. Stephen G. Compton dari University of Leeds, Inggris mengemukakan aspek interaksi serangga dan tanaman.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati di Asia Tenggara.

Perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang besar sering kali dikelola secara mayoritas monokultur yang sangat minim mendukung kehidupan hewan, tetapi pengelolaan yang lebih ramah lingkungan menawarkan kesempatan untuk memelihara keanekaragaman hayati yang lebih luas.

Prof. Michael Goodin dari University of Kentucky, Amerika Serikat menyampaikan pandangan dari aspek virologi tanaman.

Presentasi ini membahas bagaimana virologi tumbuhan dapat menginformasikan keprihatinan epidemiologis yang paling mendesak di zaman kita di bawah hipotesis bahwa, jika virologi tumbuhan dapat menginformasikan kemunculan virus zoonosis, maka keduanya harus memiliki kesamaan : fenomena “wabah” (kemunculan tiba-tiba), fenomena “limpahan” (perpindahan dari daerah liar ke daerah yang dijinakkan), genetika umum (jenis virus yang serupa), ketergantungan pada “Vektor” untuk penyebaran virus, dan pemeliharaan virus dalam spesies “reservoir”.

Rektor Universitas Syiah Kuala, dalam sambutannya saat membuka acara, menyampaikan bahwa pertanian sebagai salah satu sector ekonomi utama juga sangat terdampak oleh pandemic global Covid-19 yang sedang berlangsung.

Padahal pertanian merupakan pendukung sector ekonomi terpenting ketahanan pangan dan pembangunan manusia. Beberapa pendekatan, strategi dan implementasi kebijakan penting untuk dijamin. Dan ICAGRI ini dapat menjadi forum yang efektif bagi akademisi, peneliti, dan praktisi, serta memperkuat kolaborasi akademisi dan industri untuk meningkatkan penelitian dan inovasi.

Dekan Fakultas Pertanian Unsyiah, Prof. Dr. Samadi, mengatakan bahwa tema ICAGRI tahun ini berkaitan erat dengan pandemic “New Shape of Sutainable Agriculture And Biosystem for Food Security After Global Covid-19 Pandemic”.

Tema ini tentunya menjadi penting mengingat kondisi terkini Indonesia dan juga dunia yang dilanda pandemic covid-19 ini.

Sector pertanian dan biosistem merupakan sector penting dalam berbagai kondisi karena kita tidak bisa terlepas dari kebutuhan pangan.

Kondisi pandemic ini membuat pergerakan menjadi serba terbatas, protocol Kesehatan juga harus diperhatikan, sementara sector pertanian harus terus bergerak dan berproduksi, oleh karena itu kita perlu mengkaji format baru bagaimana sector pertanian pasca covid ini.

Efek Covid ini bukan hanya di Indonesia saja, seluruh dunia mengalami kondisi yang sama, sehingga kita butuh sharing informasi dengan berbagai elemen dari dalam dan luar negeri.

Jadi kampus sebagai Center Of Excellence harus terus memberikan inspirasi dan mengalirkan gagasan, serta aksi-aksi nyata untuk menjawab berbagai persoalan dengan baik.

Sehingga kita berharap perhelatan ini akan melahirkan kemaslahatan bagi dunia pertanian dan masyarakat Indonesia serta berkontribusi untuk dunia, jelas Samadi.

Ketua Penyelenggara ICAGRI-2, Prof. Dr. Rina Sriwati mengatakan, acara ini merupakan kontribusi civitas akademi Fakultas Pertanian Unsyiah dalam memperkuat jaringan Ilmiah agar berbagai masalah dalam bidang pertanian dapat terkurangi.

Pandemi global baru-baru ini telah membawa gangguan sosial ekonomi yang signifikan di semua negara, terutama di industri pertanian, bio-system, dan ketahanan pangan.

Sehingga event ini dapat memitigasi dan meminimalkan masalah dalam industri pertanian dan sistem pangan selama dan pasca krisis.

Telah terdata 116 presenter dan 197 participant yang ikut berkontribusi dari berbagai negara antara lain Amerika, Inggris, Yunani, Jepang, Jerman, China, Pilipina, Malaysia, Vietnam dan Indonesia.

Alhamdulillah acara telah berjalan dengan baik. Sejak pembukaan, paparan Keynote Speakers; Prof. George Papadokis dari University of Athens – Yunani, Prof. Michael Goodin dari University of Kentucky – Amerika, Dr. Stephen G. Compton dari University of Leeds – Inggris, dan Rektor IPB Prof. Arif Satria dari Indonesia. Ditambah seorang invited speaker dari Jepang Prof.

Hasegawa Koichi. Selanjutnya kami akan merangkim hasil-hasil pertemuan ini, serta semua artikel akan terbit di Jurnal Internasional IOP Conference Series berindeks scopus dan google scholar.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung kesuksesan acara ini. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Waspada, Ini Tanda-Tanda Daerah Bakal Diterpa Puting Beliung

Sel Okt 27 , 2020
Acehpos.id | Dua daerah di Bekasi, Jawa Barat, diterjang angin puting beliung hanya berselang beberapa hari. Pertama, puting beliung menerjang Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa […]